Asal mula
Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, dengan membawa 100 cacah (rakyat) ditugaskan untuk membuka wilayah baru yang bernama Cikundul. R. Djajasasana kemudian berhasil menahan serangan Banten dalam mempertahankan wilayahnya sehingga beliau dianugerahi gelar panglima (Wira Tanu). Sehingga beliau akhirnya dikenal dengan gelar Raden Aria Wira Tanu
Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).
Cianjur memiliki filosofi yakni NGAOS, MAMAOS dan MAEN PO yang mengingatkan pada kita semua tentang 3
(tiga) aspek keparipurnaan hidup.
1.
NGAOS adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan
nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan keberagamaan. Citra sebagai
daerah agamis ini konon sudah terintis sejak Cianjur lahir sekitar tahun 1677
dimana wilayah Cianjur ini dibangun oleh para ulamadan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar
Islam. Itulah sebabnya Cianjur juga sempat mendapat julukan gudang santri dankyai sehingga mendapat julukan KOTA SANTRI.
Bila di tengok sekilas sejarah perjuangan di tatar Cianjur jauh sebelum masa perang kemerdekaan, bahwa kekuatan-kekuatan
perjuangan kemerdekaan pada masa itu tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren.
Banyak pejuang-pejuang yang meminta restu para kyai sebelum berangkat ke medan
perang. Mereka baru merasakan lengkap dan percaya diri berangkat ke medan juang
setelah mendapat restu para kyai.
2.
MAMAOS adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan
kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati
Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem
Pancaniti. Ia menjadi dalem tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862. Seni mamaos
ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi
kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya
syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan
segala hasil ciptaan-Nya.
3.
Sedangkan MAEN PO adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan.
Pencipta dan penyebar maenpo ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan
nama R. H. Ibrahim, aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas
atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling
bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan
(pukulan).
Apabila filosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan
symbol rasa keber-agama-an, kebudayaan dan kerja keras. Dengan keber-agama-an
sasaran yang ingin dicapai adalah terciptanya keimanan dan ketaqwaan masyarakat
melalui pembangunan akhlak yang mulia. Dengan kebudayaan, masyarakat cianjur
ingin mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbudaya, memiliki
adab, tatakrama dan sopan santun dalam tata pergaulan hidup. Dengan kerja keras
sebagai implementasi dari filosofi maenpo, masyarakat Cianjur selalu menunjukan
semangat keberdayaan yang tinggi dalam meningkatkan mutu kehidupan. Liliwatan,
tidak semata-mata permainan beladiri dalam pencak silat, tetapi juga
ditafsirkan sebagai sikap untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang maksiat.
Sedangkan peupeuhan atau pukulan ditafsirkan sebagai kekuatan di dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam hidup.
Beras Pandan Wangi
Pandan Wangi merupakan satu-satunya beras wangi beraroma pandan
yaitu beras yang merupakan satu-satunya beras terbaik yang tidak ditemukan di
daerah lain dan menjadi khas Cianjur. Rasanya enak (pulen) dan harganya pun
relatif lebih tinggi dari beras biasa. Di Cianjur sendiri, pesawahan yang
menghasilkan beras asli Cianjur ini hanya di sekitar Kecamatan Warungkondang, Cugenang dan sebagian Kecamatan Cianjur. Luasnya sekitar 10,392 Ha atau
10,30% dari luas lahan persawahan di Kabupaten Cianjur. Produksi rata-rata per
hektar 6,3 ton dan produksi per-tahun 65,089 ton. Kecamatan Pacet dan Cipanas menghasilkan sayur-sayuran antara lainWortel, Bawang daun, Brocoli, Buncis, Kol, Terong, Aneka Cabe, Kailan, Bit, Paprika merah & hijau, Jagung manis, Tomat, Poling,Jamur, Slada, Timun Jepang dan lain lain.
Ayam Pelung
Ayam Pelung merupakan ayam peliharaan asal Cianjur, sejenis ayam asli
Indonesia dengan tiga sifat genetik. Pertama
suara berkokok yang panjang mengalun. Kedua pertumbuhannya cepat. Ketiga postur
badan yang besar. Bobot ayam pelung jantan dewasa bisa mencapai 5 - 6 kg dengan
tinggi antara 40 sampai 50 cm. Nama ayam pelung berasal dari bahasa sunda
Mawelung atau Melung yang artinya melengkung, karena dalam berkokok
menghasilkan bunyi melengkung juga karena ayam pelung memiliki leher yang
panjang dalam mengahiri suara / kokokannya dengan posisi melengkung. Ayam
pelung merupakan salah satu jenis ayam lokal indonesia yang mempunyai
karakteristik khas, yang secara umum ciri ciri ayam pelung dapat digambarkan
sebagai berikut :
1.
Badan: Besar dan kokoh
(jauh lebih berat / besar dibanding ayam lokal biasa)
2.
Cakar: Panjang dan
besar, berwarna hitam, hijau, kuning atau putih
3.
Pial: Besar, bulat dan
memerah
4.
Jengger: Besar, tebal
dan tegak, sebagian miring dan miring, berwarna merah dan berbentuk tunggal
5.
Warna bulu: Tidak
memiliki pola khas, tapi umumnya campuran merah dan hitam ; kuning dan
putih ; dan atau campuran warna hijau mengkilat
6.
Suara: Berkokok
berirama, lebih merdu dan lebih panjang dibanding ayam jenis lainnya.
Demografi
Kabupaten Cianjur, menurut Sensus Penduduk 2000, berpenduduk 1.931.480 jiwa,
terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 982.164 jiwa dan perempuan 949.676
jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,23 %.
Kecamatan yang jumlah penduduknya terbesar adalah
Kecamatan Pacet sebanyak 170.224 jiwa dan Kecamatan Cianjur sebanyak 140.374
jiwa. Kecamatan lainnya yang jumlah penduduknya diatas 100.000 jiwa adalah Kecamatan
Cibeber (105.0204 jiwa), Kecamatan Warungkondang (101.580 jiwa) dan Kecamatan
Karangtengah (123.158 jiwa). Kecamatan yang jumlah penduduknya terkecil adalah
Kecamatan Cikadu sebanyak 36.212 jiwa. Kecamatan lainnya yang
jumlah penduduknya antara 40.000 - 50.000 jiwa adalah Kecamatan Sindangbarang,
Takokak, dan Sukanagara.
Ekonomi[sunting | sunting sumber]
Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian
yaitu sekitar 62.99 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar
terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sekitar 42,80 %.
Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor
perdagangan dan jasa yaitu sekitar 14,60%. dan pengiriman pembantu 30%
Kepadatan penduduk
Dengan kepadatan penduduk tidak merata:
1.
63,90 % di wilayah
utara dengan luas wilayah 30,78 %
2.
19,19 % di wilayah
tengah dengan luas wilayah 28,25 %
3.
17,12 % di wilayah
selatan dengan luas wilayah 40,70 %
Agama
Penduduk Kabupaten Cianjur dikenal sebagai masyarakat yang
religius dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam yang mencapai
98 %, sedangkan penduduk non muslim mencapai 2 %, dengan rincian
sebagai berikut:
1.
Penduduk beragama Islam = 1.893.203 orang (98 %)%
2.
Penduduk beragama Kristen = 32.841 orang (1,7 %)
Tingkat partisipasi usia sekolah
2.
Angka Pastisipasi Kasar SMP mencapai 38,50 %
3.
Angka Partisipasi Kasar SMA mencapai 11,98 %
4.
Angka Partisipasi Kasar KULIAH mencapai 20,18 %
Indikasi peningkatan derajat kesehatan masyarakat
1.
Angka Kematian Ibu (AKI)
saat ini mencapai 373 per 100.000 kelahiran , turun dari keadaan tahun-tahun sebelumnya
sebesar 420 per 100.000 kelahiran.
2.
Angka Kematian Bayi
(AKB) mencapai 62,00 per 1.000 kelahiran hidup, turun dari keadaan tahun-tahun
sebelumnya sebesar 65,38 per 1.000 kelahiran hidup.
3.
Angka Harapan Hidu (AHH)
mencapai rata-rata 66,45 tahun, naik dari keadaan tahun-tahun sebelumnya
sebesar 62 tahun.
Sumber: Pemerintah Kabupaten Cianjur
Transportasi
Suasana Cianjur
Ibukota kabupaten Cianjur dilintasi jalan nasional (Jakarta-Bogor-Bandung), serta
jalur kereta api Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur.
Perjalanan ke Cianjur biasanya ditempuh melalui jalan darat, jika
dari Jakarta bisa melewati jalur Puncak,
jalur Sukabumi atau jalan alternatif melalui Jonggol
Wisata
Objek wisata yang ditawarkan : Pantai Jayanti, Taman Bunga
Nusantara, Kebun Raya Cibodas, Situs Megalitikum Gunung
Padang, Gunung Gede, Gunung Pangranggo, dan Air terjun Kab.
Cianjur.
Bupati/Dalem
1.
R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
2.
R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
3.
R.A.
Wira Tanu III (1707-1727)
4.
R.A. Wira Tanu Datar IV (1727-1761)
5.
R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
6.
R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
7.
R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
8.
R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
9.
R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
10.
R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
11.
R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
12.
R.A.A. Wiratanatakusumah (1912-1920)
13.
R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
14.
R. Sunarya (1932-1934)
15.
R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
16.
R. Adiwikarta (1943-1945)
17.
R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
18.
R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
19.
R. Abas Wilagasomantri (1946-1948)
20.
R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
21.
R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
22.
R. Akhyad Penna (1952-1956)
23.
R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
24.
R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
25.
R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
26.
Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
27.
Letkol Sarmada (1966-1969)
28.
R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
29.
Drs. H. Ahmad Endang (1970-1978)
30.
Ir. H. Adjat Sudrajat
Sudirahdja (1978-1983)
31.
Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-1988)
32.
Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1996)
33.
Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
34.
Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006)
35.
Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh,
MM (2006-2016)

ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق